Header Ads Widget

KPK

6/recent/ticker-posts

Belajar Dari Pengalaman Petani "Tempoe Doloe " , Baja Tani Bali Bertekad Membangun Ketahanan Pangan Di Bali

 



Bali, KPK - Kehidupan  sebagai  Petani yang  berhasil  diawali  dengan  kesabaran, lalu didukung  tekat yang  kuat  ,menjaga  kualitas  hasil  produksi .

Para pendahulu  kita  yang  bekerja  sebagai  Petani jaman "Tempoe Doloe ", belum  mengenal  sistem pertanian dengan   teknologi  modern sepeti  saat  ini. Mereka  tidak mengenal  tracktoor , tidak  mengenal  pupuk  hasil  pabrik yang  didominasi  berbahan unsur- unsur  kimia. 

Pada  jaman tersebut , Indonesia  dikenal  sebagai  sebuah  negara  agraris dan sistem  pertanian  sebagian  besar bergantung  kepada  alam dan kearifan lokal. Penggunaan  pupuk  kandang , juga daun- daun  kering  yang  jatuh  berserakan  di bawah pohon. 

Bali  memiliki  berbagai keunikan , tak terkecuali  kegiatan  pertanian seperti  memulai  membuat binih , menanam  pohon ada aturan  waktu  yang  baik  yang  tercantum atau  dapat  dilihat  dari  Kalender Bali ( penanggalan Bali ). 

Pada  Kalender  tersebut  ada keterangan  hari  yang  baik atau dalam istilah  Bali disebut   dewasa ayu. Disitu tercantum  juga  hari  raya bagi  umat Hindu. Luar biasa  para leluhur  Bali , sudah menghasilkan  sebuah  kalender yang  hingga  saat  ini masih  ada dan berlaku. 


Dewasa  ini , sudah  menjadi  hal lazim  problema harga  pupuk  dari pabrik  pupuk  sering  dirasakan  mahal oleh  para Petani juga sering  terjadi  kelangkaan.

Menyikapi  kondisi demikian tidak  sedikit  Petani yang  kembali  kepada tradisi  Petani jaman  dulu. Menggunakan  limbah  kotoran  hewan ( seperti  Sapi , Kerbau , Kambing) , mengolah  daun  - daun  menjadi  pupuk , istilahnya  pupuk  organik , kompos  daun , pupuk kandang.


Hasil  penelusuran Penulis di Desa  Belatungan, Kecanatan Pupuan, Kabupaten Tabanan Tabanan , 23 Oktober  2021 berdasarkan  wawancara dengan  I Made  Suma Ada warga  Desa setempat . Disampaikan  bahwa  pertanian dengan  memanfaatkan  pupuk  berasal  dari  kotoran hewan dan daun - daun bisa membuat  tanah  menjadi  subur , unsur hara  meningkat yang  sangat  dibutuhkan oleh  tanaman  kopi , seperti Kopi  jenis  Robusta yang  dibudidayakannya. Beliau  yang  juga  sebagai  pemilik  usaha  pabrik  bubuk kopi skala  rumahan ( home industri ) mengatakan: " Pemupukan atau pertanian  organik  bIsa menghemat biaya , bahan  pupuk dari hasil  peternakan sendirii , daun daun yang  jatuh maupun  rumput liar. Saat  panen mengunakan sistim  petik merah, maka kualitas  biji kopi  bisa menembus  pasar  internasional , " ujar  Made bersemangat. 


Disampaikan  juga  

perbandingan  berat  biji  kopi  setelah  panen atau  dikenal  dengan istilah  basah dan  diolah  menjadi  biji  kopi  yang  siap diproses menjadi  bubuk kopi ( istilah  biji kopi  kering) adalah 10 Kwintal  basah  menjadi  4 Kwintal kering.

Dijelaskan pula: " Kami  mengolah  biji  kopi  hingga  siap  diproses  menjadi  bubuk  kopi , dengan  memakai  kembali  cara  tradisional  dengan  kontrol yang  ketat demi  menjaga  kualitas , aroma  yang  menggoda ", demikian  Made  sambil menunjukkan  produksinya: Kopi  Mesari. Beliau  yang juga  anggota Baja Tani Bali berharap para Petani  khususnya  di Bali bisa mengolah  tanaman dengan  pertanian  organik , yang  dipelopori oleh  organisasi Baja Tani Bali yang Dewan Pembinanya  DR I Gusti Ngurah Rai Sutanegara , M.H.


Senada  dengan  I Made  Suma Ada,  Ketua Baja Tani Bali,  Nyoman Heriartana, S.Sos  menyampaikan pada rapat Baja Tani Bali, Minggu  24 Oktober 2021 bertempat  di Mini  Agro Kediri , Kabupaten  Tabanan ,  menyampaikan 

bahwa : " Baja Tani Bali sangat  mendorong para  Petani bisa melaksanakan  budi daya  tanaman dengan  pola  pertanian  organik demi  permulian tanah dan hasil  produksi bisa lebih  bagus , harga  jual yang menguntungkan Petani dan biasanya  pasar  luar  negeri cenderung lebih  menerima  hasil  produksi pertanian  organik , " ujar  Nyoman Heriartana yang  sangat  getol  " blusukan" demi  memperkenalkan dan membangun  Baja Tani Bali , agar  Bali  memiliki  ketahanan pangan. 



Ditempat  dan kesempatan yang  sama,  Pemilik  Mini  Agro Kediri : Ir I Made  Wijaya  Kusuma,  MAP ,C.ATMI, C NNLP, CH ,  menyampaikan  bahwa : " Sangat  perlu  edukasi  bagi  para Petani,  orientasi pada  kebutuhan pasar  Global, penerapan teknologi  pasca  panen. Membangun  pertanian  dari  Desa  itu  perlu. Potensi  pertanian , perkebunan , peternakan didata dan ditata sehingga ada pemetaan yang  jelas , ada road map terkait  pengembangan pertanian yang  berkesinambungan , tercapainya  kehidupan pertanian yang  ajeg , lestari  dan bisa meningkatkan kesejahteraan  para Petani di Bali , " ujar Made  Wijaya Kusuma , yang juga pemilik OASE Internasional Curse & Education yang  berlokasi di Banjar Anyar,  Kecamatan Kediri, Kabupaten  Tabanan   Bali. 


Terkait Pertanian  Organik ,  Senin  25 Oktober 2021, Penulis     menyabangi  Wayan  Indrawan , Anggota  Komisi  2 DPRD Kabupaten Buleleng  di kediaman  Beliau , di Desa Pancasari,  Kecanatan Sukasada , Kabupaten Buleleng. Terkait  pertanian  organik  Beliau  menyampaikan  bahwa: " Mengenal pertanian  organik  sedang  dilakukan  pembicaraan - pembicaraan  agar ada  Peraturan Daerah  ( PERDA  ). Pola pertanian  organik sangat  terkait dengan  upaya  tata  kelola  sampah , pelestarian  lingkungan hidup.  Contohnya  tanaman  Eceng  Gondok di Danau  Buyan , yang  dulu  sangat banyak , menjadi  persoalan bertahun - tahun , kini hampir  tidak ada. Masyarakat  setempat  bergotong royong  membersihkannya. Enceng gondok diolah dengan  cara sederhana dijadikan  pupuk organik dan dijual, " tutur Indrawan Jes , sapaan  akrab Beliau, yang  saat Pemilu  2019 meraih  suara terbanyak di Dapil Buleleng 6  ( Kecamatan Sukasada) dari Partai  PDI Perjuangan. (Cahaya)